Business
Dari Setiap Tetes Air, PGE Area Lahendong Dorong Efisiensi Operasional dan Ketahanan Air Bersama Masyarakat
KLIKNARASI.ID— PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) Area Lahendong terus memperkuat pengelolaan sumber daya air melalui inovasi yang tepat guna, mulai dari efisiensi penggunaan air dalam kegiatan operasional hingga pemanfaatan air hujan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan air masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen PGE Area Lahendong dalam menerapkan prinsip keberlanjutan secara menyeluruh, dengan melihat air tidak hanya sebagai sumber daya yang perlu digunakan secara efisien, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang perlu dijaga dan dikelola bersama masyarakat sekitar secara mandiri dan berkelanjutan.
Salah satu inovasi yang dikembangkan dalam kegiatan operasional adalah Mini Condenser, yaitu modifikasi pada sistem coil tubing condenser yang digunakan untuk mendukung proses pengujian. Inovasi tersebut mampu mengurangi kebutuhan air bersih dari sekitar 10 liter menjadi 1,3 liter untuk setiap sampel, atau mencapai efisiensi penggunaan air sekitar 87 persen.
Berdasarkan data PGE Area Lahendong, berbagai inovasi efisiensi air pada kegiatan operasional turut menghasilkan penghematan penggunaan air hingga 287.280 meter kubik pada tahun 2024.”Efisiensi sumber daya merupakan bagian dari upaya kami memastikan kegiatan operasional panas bumi berjalan secara efektif dan bertanggung jawab kepada lingkungan sekitar.
Inovasi ini menunjukkan bahwa optimalisasi dapat dimulai dari proses operasional yang sederhana, namun mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat,” kata General Manager PGE Area Lahendong Yanuaris Dwi Cahyono.
Pendekatan pengelolaan air PGE Area Lahendong juga diperluas melalui program pengembangan masyarakat RAIN+ (Resilient Access to Integrated Water for Climate Adaptation), yang dikembangkan bersama masyarakat untuk mendorong pemanfaatan air hujan sebagai sumber air alternatif sekaligus meningkatkan kapasitas warga dalam menghadapi tantangan ketersediaan air.
Program ini lahir dari kondisi nyata di lapangan: wilayah dataran tinggi Sulawesi Utara memiliki potensi curah hujan tinggi, namun pada musim kemarau masyarakat di sejumlah wilayah masih menghadapi tantangan ketersediaan air dan ketergantungan terhadap sumber air tanah.
Melalui pendekatan rainwater harvesting, RAIN+ mendorong perubahan paradigma dari air hujan sebagai limpasan yang terbuang menjadi sumber daya yang dapat ditampung, diolah, dimanfaatkan, dan dikonservasi.
Sistem yang dikembangkan mencakup first flush system, penyaringan mekanis, filtrasi berlapis menggunakan media seperti pasir, karbon aktif, dan zeolit, serta tangki penyimpanan air.
Desain RAIN+ juga mengintegrasikan sumur resapan dan biopori untuk membantu mengembalikan sebagian air ke dalam tanah, sehingga pengelolaan air tidak hanya memenuhi kebutuhan pemanfaatan tetapi juga mendukung konservasi dan pengurangan limpasan permukaan.
Program ini dirancang dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui empat intervensi utama: optimalisasi, edukasi, substitusi, dan kemandirian.
Masyarakat tidak hanya menerima infrastruktur pengelolaan air, tetapi juga memperoleh edukasi dan pelatihan agar mampu mengoperasikan serta mengelola sistem secara mandiri — sehingga manfaatnya tetap berjalan meski tanpa pendampingan perusahaan.
Ekosistem RAIN+ mencakup sejumlah lokasi di sekitar wilayah operasi PGE Area Lahendong, antara lain fasilitas untuk pertanian Bunga Krisan dan pemenuhan air minum di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA) Tomohon.
Program ini melibatkan Sekolah Air Hujan Banyu Bening Yogyakarta sebagai mitra kolaborator untuk mendukung edukasi dan pelatihan pengelolaan air hujan.
Implementasinya dilakukan bertahap melalui sosialisasi konservasi air, pelatihan rainwater harvesting, pembangunan infrastruktur percontohan berupa tangki, filter dan sumur resapan, serta pendampingan komunitas dalam pengelolaan dan pengoperasian sistem.
“Kami melihat pengelolaan air tidak hanya sebagai bagaimana mengurangi penggunaannya dalam kegiatan operasional, tetapi juga bagaimana meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap ketersediaan air. Melalui RAIN+, kami ingin mendorong pemanfaatan air hujan sebagai sumber daya yang dapat dikelola sekaligus membangun kapasitas masyarakat agar pengelolaannya dapat berlangsung secara mandiri,” ujar Yanuaris.
Pendekatan tersebut sejalan dengan indikator keberhasilan RAIN+, yang mencakup beroperasinya infrastruktur rainwater harvesting, terbentuknya kapasitas sumber daya manusia pengelola air, meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai konservasi air dan mitigasi bencana hidrometeorologi, serta berkurangnya ketergantungan terhadap eksploitasi air tanah untuk kebutuhan domestik.
Sementara itu, Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengungkapkan bahwa bagi PGE, pengelolaan air merupakan bagian dari upaya menciptakan nilai yang tidak berhenti pada efisiensi sumber daya dalam kegiatan operasional.
Melalui kombinasi inovasi teknologi dan pemberdayaan masyarakat, PGE Area Lahendong terus mendorong terbentuknya praktik pengelolaan air yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan, yakni dijalankan bersama, bukan sekadar untuk, masyarakat di sekitar wilayah operasi.
“Keberlanjutan membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, termasuk dalam pengelolaan sumber daya air. Efisiensi di dalam operasi dan penguatan ketahanan air di masyarakat merupakan bagian dari upaya PGE untuk menciptakan nilai lingkungan dan sosial secara bersamaan. Inovasi yang lahir dari kebutuhan di lapangan seperti ini menjadi bagian penting dari perjalanan PGE sebagai perusahaan energi hijau yang tumbuh bersama masyarakat di sekitar wilayah operasinya,” kata Ahmad Yani.
Melalui berbagai inovasi tersebut, PGE Area Lahendong terus memperkuat praktik water stewardship — pengelolaan air yang memperhatikan efisiensi penggunaan, konservasi sumber daya, adaptasi terhadap perubahan iklim, serta manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Upaya ini menjadi bagian dari komitmen PGE untuk memastikan pengembangan energi panas bumi berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan penciptaan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.
*Tentang PT Pertamina Geothermal Energy Tbk*PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) merupakan bagian dari Subholding Power & New Renewable Energy (PNRE) PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang eksplorasi, eksploitasi, dan produksi panas bumi.
Saat ini PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang sebesar 1.932 MW, terbagi atas 727 MW yang dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGE dan 1.205 MW dikelola dengan skema Kontrak Operasi Bersama. Kapasitas terpasang panas bumi di wilayah kerja PGE berkontribusi sekitar 70 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi CO2 sebesar sekitar 10 juta ton CO2 per tahun.
Sebagai world class green energy company, PGE ingin menciptakan nilai dengan memaksimalkan pengelolaan end-to-end potensi panas bumi beserta produk turunannya serta berpartisipasi dalam agenda dekarbonasi nasional dan global untuk menunjang Indonesia net zero emission 2060.
PGE memiliki kredensial ESG yang sangat baik, dengan 20 penghargaan PROPER Emas sejak 2011 sampai 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. PGE juga termasuk perusahaan dengan risiko ESG sangat rendah, yang menempatkannya sebagai peringkat 1 dari 679 perusahaan di Sektor Utilitas Global pada Sustainalytics ESG Risk Rating 2025.(*/red)
